03/09/23

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

 Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan nama panggilan "Gus Dur," adalah seorang ulama, intelektual, dan politikus Indonesia yang menjadi tokoh penting dalam sejarah politik dan agama Indonesia. Berikut adalah biografi singkat tentang Gus Dur:


**Nama Lengkap:** Abdurrahman Wahid


**Tanggal Lahir:** 7 September 1940


**Tempat Lahir:** Jombang, Jawa Timur, Indonesia


**Tanggal Wafat:** 30 Desember 2009


**Latar Belakang Keluarga:**

- Abdurrahman Wahid lahir dalam keluarga bangsawan Jawa yang memiliki keturunan dari banyak tokoh agama, termasuk pendiri pesantren (sekolah agama Islam tradisional) besar di Jawa Timur.


**Pendidikan dan Karier Awal:**

- Gus Dur menerima pendidikan awal di rumah dari ayahnya yang merupakan seorang ulama.

- Ia melanjutkan pendidikannya di pesantren dan kemudian di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, di mana ia belajar tentang Islam.

- Ia juga belajar di Universitas Baghdad di Irak.


**Kontribusi dalam Bidang Agama:**

- Gus Dur adalah seorang ulama dan pemikir Islam yang memiliki pandangan moderat dan inklusif.

- Ia memimpin Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, sebagai ketua dari tahun 1984 hingga 1999.

- Gus Dur mempromosikan dialog antaragama dan toleransi agama, serta menekankan pentingnya Islam yang moderat dan inklusif.


**Karier Politik:**

- Gus Dur terlibat dalam politik Indonesia dan menjadi presiden Indonesia keempat pada tahun 1999 setelah masa kekuasaan Soeharto berakhir.

- Ia adalah presiden pertama Indonesia yang dipilih secara demokratis oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

- Selama masa jabatannya sebagai presiden, Gus Dur menghadapi tantangan besar, termasuk krisis ekonomi dan konflik etnis dan agama. Meskipun kontroversial, ia terus mempromosikan demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian.


**Pengasingan dan Kehidupan Setelah Pemerintahan:**

- Gus Dur dijatuhkan dari jabatannya sebagai presiden pada tahun 2001 oleh MPR karena tekanan politik.

- Setelah itu, ia menjalani masa pengasingan politik dan hidup dengan relatif tenang di Yogyakarta.

- Ia terus berbicara tentang isu-isu politik, sosial, dan agama di Indonesia hingga wafatnya pada tahun 2009.


**Pengakuan dan Penghargaan:**

- Gus Dur dihormati sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia, terutama dalam konteks perdamaian, pluralisme, dan demokrasi.

- Ia dianugerahi berbagai penghargaan dan gelar kehormatan, termasuk penghargaan PBB "Ketua Kelas Dunia untuk Keselamatan Kemanusiaan."


Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, adalah sosok yang sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu pemimpin spiritual dan politik terpenting di Indonesia. Pemikirannya tentang pluralisme, toleransi agama, dan demokrasi terus memengaruhi perkembangan Indonesia hingga saat ini.

Aktivitas setelah kepresidenan

Perpecahan pada tubuh PKB

Sebelum Sidang Khusus MPR, anggota PKB setuju untuk tidak hadir sebagai lambang solidaritas. Namun, Matori Abdul Djalil, ketua PKB, bersikeras hadir karena ia adalah Wakil Ketua MPR. Dengan posisinya sebagai Ketua Dewan Syuro, Gus Dur menjatuhkan posisi Matori sebagai Ketua PKB pada tanggal 15 Agustus 2001 dan melarangnya ikut serta dalam aktivitas partai sebelum akhirnya mencabut keanggotaan Matori pada bulan November.[65] Pada tanggal 14 Januari 2002, Matori mengadakan Munas Khusus yang dihadiri oleh pendukungnya di PKB. Munas tersebut memilihnya kembali sebagai ketua PKB. Gus Dur membalasnya dengan mengadakan Munasnya sendiri pada tanggal 17 Januari, sehari setelah Munas Matori selesai[66] Musyawarah Nasional memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. PKB Gus Dur lebih dikenal sebagai PKB Kuningan sementara PKB Matori dikenal sebagai PKB Batutulis.


Pemilihan umum 2004

Pada April 2004, PKB berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004, memperoleh 10.6% suara. Untuk Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004, di mana rakyat akan memilih secara langsung, PKB memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis sehingga Komisi Pemilihan Umum menolak memasukkannya sebagai calon. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan dari Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Untuk pemilihan kedua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur menyatakan golput.


Oposisi terhadap pemerintahan SBY

Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu pemimpin koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan menyebabkan naiknya harga BBM.


Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

 Ki Hajar Dewantara, yang nama aslinya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, adalah seorang tokoh pendidikan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang memiliki peran besar dalam perkembangan pendidikan dan budaya di negara ini. Berikut adalah biografi singkat tentang Ki Hajar Dewantara:


**Nama Lengkap:** Raden Mas Soewardi Soerjaningrat


**Nama Gelar Kehormatan:** Ki Hajar Dewantara


**Tanggal Lahir:** 2 Mei 1889


**Tempat Lahir:** Yogyakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)


**Tanggal Wafat:** 26 April 1959


**Pendidikan dan Karier Awal:**

- Ki Hajar Dewantara memiliki pendidikan awal yang baik dan belajar di ELS (Europeesche Lagere School) dan Hoogere Burger School (HBS) di Yogyakarta.

- Ia juga mengambil pendidikan teknik sipil di Technische Hoogeschool di Delft, Belanda, tetapi tidak menyelesaikannya.


**Kontribusi dalam Pendidikan:**

- Ki Hajar Dewantara adalah pemimpin dalam gerakan pendidikan di Indonesia.

- Ia mendirikan pendidikan Taman Siswa pada tahun 1922, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan dasar kepada rakyat jelata, khususnya masyarakat pedesaan yang belum mendapatkan pendidikan formal.

- Ia mempromosikan konsep "pendidikan untuk semua" yang merangkul pendidikan formal dan informal, serta menekankan pentingnya pendidikan yang berpusat pada perkembangan karakter dan kreativitas individu.

- Ki Hajar Dewantara juga memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi perempuan dan merancang sekolah khusus perempuan (Sekolah Kartini) untuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi perempuan.


**Kontribusi dalam Bidang Budaya:**

- Selain pendidikan, Ki Hajar Dewantara juga berperan dalam bidang seni dan budaya. Ia aktif dalam promosi seni tradisional dan mengembangkan kesadaran akan pentingnya seni dalam kehidupan masyarakat.

- Ia mendirikan Teater Bumi Putra pada tahun 1942 yang menjadi salah satu panggung seni pertama di Indonesia.


**Pengakuan dan Penghargaan:**

- Ki Hajar Dewantara dihormati sebagai salah satu tokoh pendidikan dan budayawan terbesar di Indonesia.

- Pada tahun 1959, Pemerintah Indonesia menganugerahkannya gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

- Hari Pendidikan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 2 Mei di Indonesia, adalah hari yang diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara dan menekankan pentingnya pendidikan untuk perkembangan bangsa.


Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pendidikan Indonesia. Ia memiliki peran besar dalam mempromosikan pendidikan, kesetaraan gender, dan budaya di Indonesia, dan warisannya terus berlanjut dalam upaya memajukan pendidikan dan kebudayaan di negara ini.

Als ik een Nederlander was


Ki Hadjar Dewantara

(Chris Lebeau, 1919)

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.


"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.


Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

 Raden Ajeng Kartini, lebih dikenal sebagai Kartini, adalah seorang tokoh pejuang emansipasi perempuan Indonesia yang dikenal luas sebagai pionir perjuangan hak-hak perempuan dan pendidikan perempuan di Indonesia pada awal abad ke-20. Berikut adalah biografi singkat tentang Raden Ajeng Kartini:


**Nama Lengkap:** Raden Ajeng Kartini


**Tanggal Lahir:** 21 April 1879


**Tempat Lahir:** Jepara, Jawa Tengah, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)


**Tanggal Wafat:** 17 September 1904


**Latar Belakang Keluarga:**

- Kartini lahir dalam keluarga bangsawan Jawa yang tergolong priyayi, kelas sosial yang tinggi pada masa Hindia Belanda.

- Ayahnya adalah R.M.A.A. Sosroningrat, seorang penguasa daerah (bupati) di Jepara.


**Pendidikan Awal:**

- Kartini mendapatkan pendidikan terbatas di rumahnya, yang umumnya terbatas pada pelajaran tata bahasa Belanda.

- Meskipun mendapat pendidikan terbatas, ia memiliki minat yang kuat untuk belajar dan membaca.


**Perjuangan dan Aktivisme:**

- Kartini merasa terbatas oleh konvensi-konvensi sosial yang membatasi kebebasannya sebagai perempuan Jawa bangsawan.

- Ia mulai menulis surat-surat kepada teman-temannya dan sahabat pena, yang kemudian dikenal sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang."

- Kartini mendukung pendidikan perempuan dan kesetaraan gender. Ia berusaha untuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi perempuan Jawa.

- Kartini juga melobi untuk hak-hak perempuan, seperti hak untuk memilih pasangan hidup (kawin lari) dan hak untuk mengejar karier atau pendidikan di luar rumah.

- Meskipun Kartini meninggal pada usia muda, upayanya dalam mempromosikan emansipasi perempuan dan pendidikan perempuan di Indonesia memiliki dampak yang besar.


**Warisan:**

- Kartini sering dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjuangan perempuan di Indonesia.

- Hari Kartini, yang diperingati setiap tanggal 21 April di Indonesia, adalah hari libur nasional yang menekankan pentingnya hak-hak perempuan dan pendidikan perempuan.

- Kartini dihormati sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak-hak dan kesetaraan yang lebih besar.

- Banyak sekolah, lembaga, dan jalan di Indonesia yang dinamai untuk mengenang Kartini dan kontribusinya.


Raden Ajeng Kartini adalah simbol perjuangan hak-hak perempuan dan pendidikan perempuan di Indonesia. Meskipun ia hidup pada masa yang sulit, pemikiran dan karya-karyanya telah memberikan inspirasi kepada generasi-generasi perempuan Indonesia untuk mengikuti jejaknya dalam perjuangan kesetaraan gender dan pendidikan.



Toggle the table of contents

Kartini


Halaman

Pembicaraan


Perkakas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.

Cari sumber: "Kartini" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (April 2019)

Untuk film dengan nama yang sama, lihat R.A. Kartini (film) dan Kartini (film).

Raden Ayu Adipati

Kartini Djojoadhiningrat


Repro negatif potret Raden Ajeng Kartini (foto 1890-an)

Lahir 21 April 1879

Jepara, Hindia Belanda

Meninggal 17 September 1904 (umur 25)

Rembang, Hindia Belanda

Makam TMP Bulu, Kec. Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah

Nama lain Raden Ayu Kartini

Dikenal atas Emansipasi wanita.

Suami/istri K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat

Anak Soesalit Djojoadhiningrat

Tanda tangan


Raden Ayu Adipati Kartini Djojoadhiningrat (21 April 1879 – 17 September 1904) atau sering disebut dengan gelarnya sebelum menikah: Raden Ajeng Kartini, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.[1] Kartini adalah seorang pejuang kemerdekaan dan kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa.[2] Ia mempunyai tanggal lahir yang sama seperti dr. Radjiman Wedyodiningrat, yakni sama-sama lahir pada 21 April 1879.


Ia dilahirkan dalam keluarga bangsawan Jawa di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut, tetapi perempuan Jawa saat itu dilarang mengenyam pendidikan tinggi. Ia bertemu dengan berbagai pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda.


Setelah kematiannya, saudara perempuannya melanjutkan pembelaannya untuk mendidik anak perempuan dan perempuan.[3] Surat-surat Kartini diterbitkan di sebuah majalah Belanda dan akhirnya, pada tahun 1911, menjadi karya: Habis Gelap Terbitlah Terang, Kehidupan Perempuan di Desa, dan Surat-Surat Putri Jawa. Ulang tahunnya sekarang dirayakan di Indonesia sebagai Hari Kartini untuk menghormatinya, serta beberapa sekolah dinamai menurut namanya dan sebuah yayasan didirikan atas namanya untuk membiayai pendidikan anak perempuan bangsa Indonesia.


Biografi


Ayah Kartini, R.M.A.A. Sosroningrat.

Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.[4]


Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi,[5] maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.[4] Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.


Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.[4] Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Di sini Kartini belajar bahasa Belanda. Namun, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus dipingit.



Surat Kartini - Rosa Abendanon (fragmen)

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.


Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Selain itu, Kartini juga membaca De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus dan karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.


Oleh orang tuanya, Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat,[6] yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.



Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.

Anak satu-satunya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.


Berkat kegigihan Kartini, belakangan didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.


Meski tidak sempat berbuat banyak untuk kemajuan bangsa dan tanah air, Kartini mengemukakan ide-ide pembaruan masyarakat yang melampaui zamannya melalui surat-suratnya yang bersejarah.


Cita-citanya yang tinggi dituangkan dalam surat-suratnya kepada kenalan dan sahabatnya orang Belanda di luar negeri, seperti Tuan EC Abendanon, Ny MCE Ovink-Soer, Zeehandelaar, Prof Dr GK Anton dan Ny Tuan HH von Kol, dan Ny HG de Booij-Boissevain. Surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh Mr JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh sastrawan pujangga baru Armijn Pane pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.[7]


Surat-surat

Setelah Kartini wafat, Jacques Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.


Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.


Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul "Ibu Kita Kartini". Lagu tersebut menggambarkan inti perjuangan wanita untuk merdeka.


Pemikiran


Uang kertas pecahan IDR 5 cetakan tahun 1952 dengan gambar Kartini.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).


Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.


Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.


Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.


Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.


Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.


Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.

Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

 Emha Ainun Nadjib, yang lebih dikenal dengan nama pena "Cak Nun," adalah seorang penyair, sastrawan, budayawan, dan cendekiawan Indonesia yang terkenal karena karyanya dalam bidang sastra dan seni serta kontribusinya dalam mengembangkan pemikiran budaya di Indonesia. Berikut adalah biografi singkat tentang Emha Ainun Nadjib:


**Nama Lengkap:** Emha Ainun Nadjib


**Nama Pena:** Cak Nun


**Tanggal Lahir:** 3 Mei 1953


**Tempat Lahir:** Jombang, Jawa Timur, Indonesia


**Pendidikan:**

- Emha Ainun Nadjib mengejar pendidikan tinggi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, di mana ia memperdalam pemahaman agama Islam dan sastra.


**Karier Sastra dan Budaya:**

- Cak Nun dikenal sebagai salah satu penyair terkemuka Indonesia. Ia telah menerbitkan banyak kumpulan puisi dan esai.

- Puisi-puisinya sering kali mencerminkan pemikirannya tentang kehidupan, agama, budaya, dan sosial di Indonesia.

- Ia juga aktif dalam kegiatan seni dan budaya, terutama dalam upaya mempromosikan seni tradisional Jawa seperti wayang kulit dan musik gamelan.

- Selain itu, Cak Nun memiliki bakat dalam berpidato dan memberikan ceramah motivasi serta ceramah tentang kebudayaan.


**Aktivisme Sosial:**

- Cak Nun adalah tokoh yang aktif dalam mengadvokasi toleransi agama dan dialog antaragama di Indonesia. Ia sering berbicara tentang pentingnya memahami dan menghormati perbedaan agama.

- Ia juga mendirikan beberapa lembaga sosial dan pendidikan, termasuk Forum Dialog Kebangsaan, yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran nasionalisme dan persatuan di Indonesia.


**Penghargaan dan Pengakuan:**

- Emha Ainun Nadjib telah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya dalam bidang sastra, budaya, dan dialog antaragama.

- Ia dihormati sebagai salah satu tokoh budaya terkemuka Indonesia yang berusaha mempromosikan nilai-nilai budaya tradisional dan toleransi.


Cak Nun adalah tokoh penting dalam dunia sastra, seni, dan budaya Indonesia. Karyanya mencerminkan pemikirannya tentang kehidupan, agama, dan budaya Indonesia, sambil mendorong dialog antaragama dan kerja sama budaya. Ia terus menjadi sosok yang dihormati dan berpengaruh dalam upaya memperkuat kebudayaan dan persatuan di Indonesia.


Wartawan


Emha Ainun Nadjib produktif berkarya dengan menggunakan mesin ketik.

Masih dalam masa berproses bersama PSK di bidang sastra, Cak Nun juga aktif dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan, tahun 1973 sampai 1976. Sebagai wartawan serta redaktur beberapa rubrik di Harian Masa Kini Yogyakarta, seperti: Seni-Budaya, Kriminalitas, dan Universitaria, pun redaktur tamu di Harian Bernas selama tiga bulan.[38]


Pada usia 24-25, tahun 1977-1978, kualitas esai-esai Cak Nun sudah diakui publik dan diterima harian Kompas. Pada 1981 saat usia Cak Nun 28 tahun, majalah Tempo telah menerima tulisan kolom-kolomnya dan ia menjadi kolumnis termuda majalah itu.[39][40]


Lima tahun (1970-1975) Cak Nun menggeluti dunia kewartawanan. Berbeda dengan wartawan modern dalam mendefinisikan peran dan tugasnya sebagai penyiar berita, Cak Nun memiliki prinsip kewartawanan yang niscaya berhubungan dengan transendensi. Cak Nun menjelaskannya sebagai berikut:[41]


“Sekurang-kurangnya para wartawan adalah jari-jemari Al-Khabir, yang maha mengabarkan. Para wartawan menyayangi dinamika komunikasi masyarakat, Ar-Rahman. Mereka memperdalam cinta kemasyarakatannya itu, Ar-Rahim. Mereka memelihara kejujuran, kesucian, dan objektivitas setiap huruf yang diketiknya, Al-Quddus. Mereka berkeliling ronda menyelamatkan transparansi silaturahmi, As-Salam. Mereka mengamankan informasi, Al-Mu`min. Mereka mengemban tugas untuk turut menjaga berlangsungnya keseimbangan nilai kebenaran, kebaikan dan keindalan, dalam kehidupan masyarakat: Al-Muhaimin. Mereka menggambar indahnya kehidupan dengan penanya, Al-Mushawwir. Serta berpuluh-puluh lagi peran Tuhan yang didelegasikan kepada kaum jurnalis atau para wartawan”.



Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

 Nurcholish Madjid, yang sering disebut sebagai Cak Nur, adalah seorang ulama, pemikir Islam, dan intelektual Indonesia yang berperan penting dalam pengembangan pemikiran Islam moderat di Indonesia. Berikut adalah biografi singkat tentang Nurcholish Madjid:


**Nama Lengkap:** Nurcholish Madjid


**Tanggal Lahir:** 17 Maret 1939


**Tempat Lahir:** Jombang, Jawa Timur, Indonesia


**Tanggal Wafat:** 29 Agustus 2005


**Pendidikan:**

- Nurcholish Madjid mengejar pendidikan agama di pesantren (sekolah agama Islam tradisional) di Jombang.

- Ia melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar di Mesir, di mana ia mendalami studi agama Islam.


**Kontribusi dan Pemikiran:**

- Nurcholish Madjid adalah tokoh penting dalam pengembangan pemikiran Islam moderat di Indonesia. Ia mendukung gagasan tentang Islam yang inklusif, toleran, dan harmonis dengan nilai-nilai demokrasi dan kemajuan.

- Ia dikenal karena mempromosikan gagasan "Islam Indonesia," yang menekankan pentingnya memahami Islam dalam konteks budaya dan sejarah Indonesia yang beragam.

- Salah satu karyanya yang terkenal adalah "Islam Agama Kemanusiaan," di mana ia mengadvokasi pandangan Islam yang berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kerja sama antaragama.

- Nurcholish Madjid juga berperan dalam mendirikan beberapa lembaga pendidikan dan sosial yang mempromosikan pemahaman Islam yang moderat.


**Aktivisme Sosial dan Pendidikan:**

- Selama hidupnya, Nurcholish Madjid sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Ia mendirikan Yayasan Paramadina, sebuah lembaga pendidikan dan riset yang fokus pada pendidikan, pengembangan masyarakat, dan pemikiran Islam.

- Ia juga terlibat dalam organisasi-organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang merupakan organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia.


**Pengaruh:**

- Nurcholish Madjid adalah salah satu pemikir Islam terkemuka Indonesia yang memiliki dampak besar pada pemikiran Islam moderat dan pemahaman Islam yang inklusif di Indonesia.

- Karyanya tetap relevan dalam upaya mempromosikan toleransi, dialog antaragama, dan perdamaian di tengah beragamnya masyarakat Indonesia.


Nurcholish Madjid adalah sosok yang sangat dihormati dalam dunia intelektual dan keagamaan Indonesia. Ia dikenal karena upayanya dalam mempromosikan pemahaman Islam yang moderat dan menjembatani kesenjangan antara tradisi Islam dan kemajuan modernitas. Pemikiran dan kontribusinya terus memengaruhi perkembangan pemikiran Islam dan masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Reformasi 1998

Namun, ia juga berjasa ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur sering diminta nasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang merupakan imbas krisis 1997. Atas saran Cak Nur, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang lebih parah. Ia juga menjadi salah satu pendiri Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berusaha mewujudkan tata pemerintahan yang baik di Indonesia secara berkelanjutan.[4]


Kontroversi

Ide dan gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatif) pada sumber ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Alquran dan As-sunnah. Gagasan Cak Nur yang paling kontroversial adalah saat dia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1970-an,[5] sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam.

Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

 Abdul Rachman Saleh adalah seorang filsuf, pemikir, dan ulama Indonesia yang berperan penting dalam pengembangan pemikiran Islam moderat dan pendidikan di Indonesia pada abad ke-19. Berikut adalah biografi singkat tentang Abdul Rachman Saleh:


**Nama Lengkap:** Abdul Rachman Saleh


**Tanggal Lahir:** 8 Maret 1888


**Tempat Lahir:** Serang, Banten, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)


**Tanggal Wafat:** 9 Juli 1962


**Pendidikan:**

- Abdul Rachman Saleh memulai pendidikannya di sekolah rakyat setempat dan kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah Belanda.

- Dia menerima pendidikan Islam tradisional di bawah bimbingan ulama terkemuka pada masa itu.


**Kontribusi dan Pemikiran:**

- Abdul Rachman Saleh dikenal sebagai salah satu pemikir terkemuka dalam perkembangan Islam moderat di Indonesia.

- Ia mempromosikan konsep Islam yang toleran, inklusif, dan membuka dialog dengan budaya-budaya non-Islam, terutama dalam konteks pluralisme Indonesia.

- Salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah buku berjudul "Islam dan Budaya," di mana ia membahas pentingnya integrasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.

- Ia juga aktif dalam mengkampanyekan pendidikan modern dan Islam yang seimbang. Dia mendirikan sekolah modern dan menggabungkan pendidikan agama dengan pendidikan umum.

- Selama hidupnya, Abdul Rachman Saleh banyak memberikan ceramah dan kuliah tentang Islam dan pendidikan di berbagai tempat di Indonesia.


**Pengabdian Sosial:**

- Abdul Rachman Saleh juga dikenal sebagai seorang pemimpin sosial yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia terlibat dalam kegiatan sosial dan amal.

- Ia mendirikan berbagai organisasi sosial dan pendidikan yang mendukung anak-anak miskin dan kurang beruntung.


**Pengakuan dan Penghargaan:**

- Meskipun bukan seorang politikus aktif, Abdul Rachman Saleh dihormati dan diakui oleh banyak kalangan sebagai pemikir dan ulama yang berpengaruh.

- Dia dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dalam mengembangkan pemikiran Islam moderat di Indonesia.


Abdul Rachman Saleh adalah sosok yang berperan penting dalam mengembangkan pemikiran Islam moderat dan pendidikan di Indonesia. Ia mendorong dialog antaragama, toleransi, dan pendidikan yang seimbang sebagai cara untuk memajukan masyarakat Indonesia dan mempromosikan nilai-nilai keadilan sosial. Pemikirannya terus memberi inspirasi dalam konteks Indonesia yang beragam dan multikultural saat ini.


Akhir hidup

Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan pesawat Dakota ini mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.


Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Times memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi izin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jip-nya di Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.


Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.


Abdulrachman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 November 1974.


Pada tanggal 14 Juli 2000,[1] atas prakarsa TNI-AU, makam Abdulrachman Saleh, Adisucipto, dan para istri mereka dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.


Namanya diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia(FKUI) yaitu (National Medical and General Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrachman Saleh.


Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

Sutan Sjahrir adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah politik Indonesia yang memainkan peran kunci dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menjadi perdana menteri pertama negara ini setelah merdeka. Berikut adalah biografi singkat tentang Sutan Sjahrir:

**Nama Lengkap:** Sutan Sjahrir

**Tanggal Lahir:** 5 Maret 1909

**Tempat Lahir:** Padang Panjang, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)

**Tanggal Wafat:** 9 April 1966

**Pendidikan:**
- Sutan Sjahrir menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Padang Panjang dan lulus pada tahun 1924.
- Ia melanjutkan pendidikannya di HBS (Hogere Burger School) di Bandung, tempat ia menjadi teman dekat Soekarno.

**Perjuangan Kemerdekaan:**
- Sutan Sjahrir adalah salah satu pendiri dan anggota aktif Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang dibentuk pada tahun 1927.
- Ia terlibat dalam perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda dan dipenjarakan beberapa kali.
- Sjahrir berkontribusi dalam menulis dokumen-dokumen politik dan pemikiran yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
- Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945, Sjahrir ditunjuk oleh Soekarno sebagai perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat dalam periode 1945-1947.

**Peran dalam Pemerintahan:**
- Sjahrir adalah seorang pemikir dan pemimpin yang moderat dan pragmatis. Dia bekerja keras untuk mendapatkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia.
- Selama masa jabatannya sebagai perdana menteri, Sjahrir menghadapi banyak tantangan, termasuk konflik dengan pihak yang ingin melanjutkan perjuangan bersenjata melawan Belanda dan tentangan dari berbagai kelompok politik di dalam negeri.
- Di bawah kepemimpinan Sjahrir, pemerintah Indonesia juga merancang beberapa undang-undang dan kebijakan ekonomi yang mengatur dasar-dasar perekonomian nasional.

**Pengasingan dan Kehidupan Setelah Pemerintahan:**
- Setelah jatuhnya kabinet Sjahrir pada tahun 1947, ia mengundurkan diri dan pergi ke pengasingan di Swiss selama beberapa tahun.
- Sjahrir kembali ke Indonesia pada tahun 1949 setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) menghasilkan perjanjian yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
- Ia mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan menjadi pemimpin partai tersebut.
- Pada tahun 1962, Sjahrir kembali ke pengasingan di Belanda setelah terlibat dalam konflik politik dengan pemerintah Soekarno.
- Sjahrir wafat di Belanda pada tahun 1966.

Sutan Sjahrir adalah sosok yang dihormati dalam sejarah Indonesia karena kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan dan kepemimpinannya sebagai perdana menteri pertama. Ia dikenal sebagai seorang intelektual yang moderat dan pemikir politik yang berusaha menjembatani perbedaan dan mencari solusi yang damai dalam menghadapi konflik-konflik politik pada masa itu.

Masa Revolusi Nasional Indonesia
Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Sjahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.

Pada masa genting itu, Bung Sjahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjuangan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.

Tulisan-tulisan Sjahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Sjahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."

Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.

Perjuangan Kita adalah karya terbesar Sjahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisis secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan pada masa depan."

Terbukti kemudian, pada November ’45 Sjahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Sjahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES

Mohammad Hatta adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang memiliki peran kunci dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara Indonesia. Berikut adalah biografi singkat tentang Mohammad Hatta:


**Nama Lengkap**: Mohammad Hatta


**Tanggal Lahir**: 12 Agustus 1902


**Tempat Lahir**: Bukittinggi, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)


**Tanggal Wafat**: 14 Maret 1980


**Pendidikan**:

- Hatta menempuh pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool), sebuah sekolah menengah tinggi di Bandung, Hindia Belanda.

- Ia melanjutkan studi ke Belanda dan meraih gelar dalam bidang Ekonomi dari Universitas Erasmus Rotterdam.


**Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia**:

- Mohammad Hatta adalah salah satu pendiri Republik Indonesia dan tokoh kunci dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan kolonial Belanda.

- Bersama dengan Soekarno, ia menjadi salah satu arsitek kemerdekaan Indonesia dan berperan dalam pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama Agresi Militer Belanda I.

- Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden pertama Indonesia.


**Peran dalam Bidang Ekonomi**:

- Mohammad Hatta dikenal sebagai ekonom yang kompeten dan pemikir sosial yang berperan penting dalam perumusan dasar-dasar ekonomi Indonesia.

- Ia memainkan peran kunci dalam perancangan UUD 1945, termasuk Pasal 33 yang mengatur tentang ekonomi nasional.

- Pasal 33 UUD 1945 mencakup prinsip-prinsip ekonomi sosialis, seperti kepemilikan negara atas sumber daya alam dan sektor-sektor strategis untuk kepentingan rakyat.


**Kehidupan Setelah Kemerdekaan**:

- Setelah Indonesia merdeka, Mohammad Hatta terus berperan dalam politik dan pemerintahan sebagai Wakil Presiden.

- Ia juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Keuangan pada beberapa kesempatan.

- Pada tahun 1956, Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden dan lebih fokus pada bidang ekonomi dan pendidikan.


**Masa Akhir dan Wafat**:

- Mohammad Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980, meninggalkan warisan yang kuat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pembangunan negara.

- Dia diakui sebagai salah satu bapak pendiri Indonesia yang telah berjuang keras untuk mencapai kemerdekaan dan membangun dasar-dasar ekonomi yang kuat untuk negara yang baru merdeka.


Mohammad Hatta adalah tokoh yang sangat dihormati di Indonesia dan dianggap sebagai salah satu pemikir dan pemimpin terkemuka dalam sejarah negara tersebut.

Pendidikan dan pergaulan

Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta.[11] Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga.[12] Ia lalu pindah ke ELS di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913,[12] dan melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917. Di luar pendidikan formal, ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.[13] Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Oesaha dan aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara.[14] Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di Jakarta.[15]


Kakeknya bermaksud akan ke Mekkah, dan pada kesempatan tersebut, ia dapat membawa Mohammad Hatta melanjutkan pelajaran di bidang agama, yakni ke Mesir (Al-Azhar).[16] Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas surau di Batuhmpar yang memang sudah menurun sejak meninggalnya Abdurrahman. Namun, hal ini diprotes dan mengusulkan pamannya, Idris untuk menggantikannya.[16] Menurut catatan Amrin Imran, Pak Gaeknya kecewa dan Syekh Arsyad pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan.[17]


Keluarga

Pada 18 November 1945, Hatta menikah dengan Rahmi Hatta dan tiga hari setelah menikah, mereka bertempat tinggal di Yogyakarta. Kemudian, dikaruniai 3 anak perempuan yang bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi'ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Share:

BILBIOGRAPHY | INDONESIA PILLOSHOPIES RIGHT


 Soekarno lahir di Peneleh, Surabaya, Jawa Timur dengan nama Kusno (Koesno) yang diberikan oleh orangtuanya.[7] Akan tetapi, karena ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.[7][9]:35-36 Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna.[7][9] Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".[9]

"Soekarno (1901-1970): Presiden pertama Indonesia dan salah satu tokoh kunci dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia dikenal sebagai orator ulung dan pemikir politik yang memiliki visi besar tentang Indonesia Merdeka."


Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda).[9]:32 Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun.[9]:32 Sebutan akrab untuk Soekarno adalah Bung Karno.


Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?"[10] karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian penamaan di Indonesia, terutama nama Jawa, yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga.


Soekarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji.[11] Dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Soekarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.


Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia[12] dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang terdiri satu kata.

Pekerjaan

Ir. Soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya.

Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami' di tengah kota.[18]

Pengaruh terhadap karya arsitektur


Monumen Nasional (tengah) dan Masjid Istiqlal (kiri), dua bangunan yang dipengaruhi oleh pemikiran Soekarno

Semasa menjabat sebagai presiden, ada beberapa karya arsitektur yang dipengaruhi atau dicetuskan oleh Soekarno. Juga perjalanan secara maraton dari bulan Mei sampai Juli pada tahun 1956 ke negara-negara Amerika Serikat, Kanada, Italia, Jerman Barat, dan Swiss. Membuat cakrawala alam pikir Soekarno semakin kaya dalam menata Indonesia secara holistik dan menampilkannya sebagai negara yang baru merdeka.[19]


Soekarno membidik Jakarta sebagai wajah (muka) Indonesia terkait beberapa kegiatan berskala internasional yang diadakan di kota itu, namun juga merencanakan sebuah kota sejak awal yang diharapkan sebagai pusat pemerintahan pada masa datang. Beberapa karya dipengaruhi oleh Soekarno atau atas perintah dan koordinasinya dengan beberapa arsitek seperti Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono, dibantu beberapa arsitek junior untuk visualisasi. Beberapa desain arsitektural juga dibuat melalui sayembara.[20]


Masjid Istiqlal (1951)

Monumen Nasional (1960)

Gedung Conefo[20]

Gedung Sarinah[20]

Wisma Nusantara[20]

Hotel Indonesia (1962)[21]

Tugu Selamat Datang[21]

Monumen Pembebasan Irian Barat[21]

Patung Dirgantara[21]

Tahun 1955 Ir. Soekarno menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan sebagai seorang arsitek, Soekarno tergerak memberikan sumbangan ide arsitektural kepada pemerintah Arab Saudi agar membuat bangunan untuk melakukan sa’i menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai. Pemerintah Arab Saudi akhirnya melakukan renovasi Masjidil Haram secara besar-besaran pada tahun 1966, termasuk pembuatan lantai bertingkat bagi umat yang melaksanakan sa’i menjadi dua jalur dan lantai bertingkat untuk melakukan tawaf [17]

Rancangan skema Tata Ruang Kota Palangkaraya yang diresmikan 

pada tahun 1957 [17]

Share:

Agama Indonesia menjadi kultur yang membudaya

Agama Indonesia menjadi kultur yang membudaya
Doc picture : 
Foto oleh Ferdie Balean: https://www.pexels.com/id-id/foto/kursi-orang-orang-bangunan-konstruksi-5452329/

 Indonesia adalah negara yang beragam budaya dan agamanya, sehingga ada berbagai aliran kepercayaan dan ajaran agama di negara ini. Di bawah ini, saya akan mencantumkan beberapa ajaran dan pemimpin terkemuka yang terkait dengan ajaran tersebut:


1. **Islam**: Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, dan sebagian besar mengikuti aliran Sunni. Tidak ada pemimpin tunggal dalam Islam, tetapi terdapat banyak ulama terkemuka di Indonesia yang memimpin berbagai komunitas dan organisasi Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.


2. **Kristen**: Ada beberapa aliran Kristen di Indonesia, termasuk Katolik dan Protestan. Para pemimpin Gereja Katolik di Indonesia dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta dan Uskup Agung Semarang. Di antara komunitas Kristen Protestan, ada berbagai denominasi yang dipimpin oleh pendeta dan pemimpin gereja lokal.


3. **Hindu**: Hinduisme dianut oleh sebagian masyarakat di Bali dan daerah-daerah tertentu di Jawa. Pemimpin agama Hindu di Indonesia disebut "Pemangku" atau pendeta Hindu yang memimpin upacara keagamaan dan kegiatan spiritual di kuil-kuil Hindu.


4. **Buddha**: Agama Buddha dianut oleh sebagian kecil penduduk Indonesia, terutama di Pulau Sumatera dan Jawa. Tidak ada pemimpin Buddha tertinggi di Indonesia, tetapi ada biksu dan pemuka agama Buddha yang memimpin komunitas Buddha.


5. **Kepercayaan Tradisional**: Selain agama-agama besar, terdapat juga banyak kepercayaan tradisional dan adat istiadat yang beraneka ragam di seluruh Indonesia. Pemimpin dalam kepercayaan tradisional biasanya adalah tokoh-tokoh adat atau pemuka masyarakat setempat.


6. **Kebatinan**: Kebatinan adalah gerakan spiritual yang mencampur unsur-unsur agama-agama tradisional Indonesia dan mistisisme. Salah satu tokoh terkemuka dalam kebatinan adalah Sabdo Palon, yang menjadi figur penting dalam gerakan Sapta Darma.


7. **Kong Hu Cu**: Kong Hu Cu atau Taoisme adalah agama tradisional Tionghoa yang juga dianut oleh sebagian masyarakat Tionghoa di Indonesia. Ada pemimpin-pemimpin keagamaan dalam komunitas Kong Hu Cu.


Penting untuk diingat bahwa Indonesia adalah negara dengan pluralisme agama dan kepercayaan yang sangat besar, dan toleransi agama dihormati dalam konstitusi Indonesia. Oleh karena itu, setiap ajaran dan kepercayaan memiliki pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka dalam komunitas mereka sendiri, dan ada beragam praktik keagamaan di seluruh negeri.

Share:

02/08/23

BILBIOGRAPHY | Philsuf Clasiccal Aljaziraa

 


Al-Jazari, juga dikenal sebagai Badi' al-Zaman Abu al-'Izz Isma'il ibn al-Razaz al-Jazari, adalah seorang insinyur, mekanik, dan ilmuwan Muslim dari Mesopotamia (sekarang Irak) yang hidup pada abad ke-12 Masehi. Dia dianggap sebagai salah satu penemu dan ahli teknologi paling penting dalam sejarah Islam.


Beberapa teori dan kontribusi terkenal Al-Jazari dalam bidang teknologi dan mekanik adalah sebagai berikut:


1. Mesin Uap: Salah satu kontribusi utama Al-Jazari adalah dalam pengembangan mesin uap. Dia menciptakan berbagai macam mesin uap untuk berbagai tujuan, termasuk mesin uap yang digunakan untuk mengangkut air dari sungai ke daerah irigasi.


2. Alat Musik Otomatis: Al-Jazari juga terkenal karena menciptakan berbagai alat musik otomatis, termasuk alat musik berbentuk manusia yang bermain musik secara otomatis dengan bantuan sistem mekanik.


3. Penemuan dan Mekanisme Pencetakan: Al-Jazari dikenal telah menciptakan perangkat untuk mencetak teks dan gambar dengan teknik akurasi dan presisi.


4. Mekanisme Jam Air: Dia juga menciptakan jam air yang akurat yang berfungsi dengan menggunakan aliran air sebagai referensi waktu.


5. Pompa Air dan Pintu Otomatis: Al-Jazari juga mengembangkan pompa air mekanis dan pintu otomatis yang dioperasikan dengan sistem mekanik.


Karya terpenting Al-Jazari adalah "Kitab al-Hiyal" (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Dalam buku ini, dia mendokumentasikan berbagai penemuan, inovasi, dan mesin yang ia ciptakan. Buku ini menjadi referensi penting dalam bidang teknik dan mekanik, dan karya-karya Al-Jazari memiliki pengaruh yang luas dalam perkembangan teknologi di dunia Islam dan Eropa selama Abad Pertengahan. Penemuan-penemuannya menjadi bukti kecemerlangan ilmiah dan teknologi dunia Islam pada masa itu.

Share:

BILBIOGRAPHY | Philsuf Clasiccal Aljaziraa



 Ibnu Bassal (nama lengkap: Abu Abdullah Muhammad bin Ishaq Ibnu Bassal al-Qurtubi) adalah seorang ulama dan ahli pertanian Muslim dari Spanyol Muslim (Andalusia) yang hidup pada abad ke-10 Masehi. Dia merupakan tokoh penting dalam bidang pertanian dan telah berkontribusi dalam penulisan buku-buku praktis tentang pertanian, hortikultura, dan irigasi.


Beberapa kontribusi dan teori terkenal Ibnu Bassal adalah sebagai berikut:



1. "Kitab al-Filaha":

   Ibnu Bassal menulis sebuah buku berjudul "Kitab al-Filaha" (The Book of Agriculture). Buku ini membahas berbagai praktik pertanian, termasuk teknik-tata cara bercocok tanam, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. "Kitab al-Filaha" merupakan salah satu karya pertanian penting dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam.


2. Hortikultura dan Kebun Raya:

   Ibnu Bassal juga tertarik pada hortikultura dan mencatat berbagai metode pengembangan dan perawatan kebun. Ia juga dikenal karena memperkenalkan berbagai spesies tanaman dari Timur ke Andalusia dan memperkenalkan metode penanaman dan budidaya yang efisien.


3. Ilmu Irigasi:

   Karya Ibnu Bassal juga membahas teknik irigasi yang efisien dan pemeliharaan sumber air untuk pertanian. Ia memberikan penjelasan tentang penggunaan sumur, kanal, dan sistem irigasi lainnya.


Karya-karya Ibnu Bassal dalam pertanian dan hortikultura telah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan pertanian dan ilmu tanah di dunia Islam. Buku-bukunya menjadi referensi penting bagi petani dan ahli pertanian pada zamannya, serta berdampak pada praktik pertanian di wilayah Andalusia dan sekitarnya. Kontribusinya dalam bidang pertanian menjadi bagian dari sejarah keunggulan ilmiah di dunia Islam pada masa keemasannya.

Share:

BILBIOGRAPHY | Philsuf Clasiccal Aljaziraa



 Ulugh Beg, juga dikenal sebagai Ulugh Begh atau Ulugbek, adalah seorang ulama, penguasa, dan astronom Muslim yang hidup pada abad ke-15. Ia merupakan cucu dari Tamerlane, seorang panglima perang terkenal dari Dinasti Timurid di wilayah Samarkand (sekarang Uzbekistan).


Salah satu kontribusi paling terkenal Ulugh Beg adalah dalam bidang astronomi dan pengamatan langit. Dia mendirikan Observatorium Ulugh Beg di Samarkand pada tahun 1428, yang menjadi salah satu pusat pengamatan astronomi paling maju pada masanya. Beberapa teori dan kontribusi Ulugh Beg dalam bidang astronomi adalah sebagai berikut:


1. Zij-i Sultani:

   Ulugh Beg mengawasi pembuatan "Zij-i Sultani," yang merupakan sebuah katalog bintang dan tabel astronomi yang sangat akurat. Katalog ini mengandung posisi bintang-bintang yang tepat dan digunakan untuk menghitung pergerakan planet dan benda langit lainnya.


2. Penentuan Tahun Sideris:

   Ulugh Beg menghitung tahun sideris (periode rotasi Bumi sehubungan dengan bintang tetap) menjadi 365,2570370 hari, yang hampir mendekati nilai modern 365,25636 hari.


3. Penelitian Gerhana:

   Ia juga melakukan penelitian gerhana Matahari dan Bulan serta menerbitkan hasil penelitiannya.


Observatorium Ulugh Beg berfungsi sebagai lembaga riset ilmiah dan pendidikan, dan menarik ilmuwan dan astronom dari berbagai wilayah untuk belajar dan berkontribusi. Pengetahuannya dalam matematika dan astronomi juga diabadikan dalam karyanya "Zij-i Sultani," yang mencakup lebih dari seribu bintang dan memberikan perkiraan yang sangat akurat tentang gerak bintang-bintang dan planet.


Sayangnya, Observatorium Ulugh Beg akhirnya dihancurkan setelah kematiannya, dan pengetahuan ilmiah dan teknologi di wilayah tersebut mengalami kemunduran. Namun, kontribusi Ulugh Beg dalam bidang astronomi tetap dikenang dan dihargai sebagai bagian dari sejarah kejayaan ilmiah di dunia Islam.

Share: