Tampilkan postingan dengan label PERISCOPEACADEMICA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERISCOPEACADEMICA. Tampilkan semua postingan

13/06/23

FALSAFAH HIDUP SILIWANGI

 




id.wikipedia.org

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan fakta sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Niskala Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Mahaprabu Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Prabu Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Niskala Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Mahaprabu Niskala Wastu Kancana.

Di tengah proses pembentukan BKR Jawa Barat ini, muncul seorang mantan pimpinan Seinendan daerah Cigelereng bersama 200 anggotanya yang kemudian menggabungkan diri dengan BKR. Pimpinan Seinendan ini yang kemudian diangkat menjadi penasihat BKR Priangan. Perkembangan BKR sebagai Badan Keamanan Rakyat dan Badan Penolong Korban Perang selanjutnya berdasarkan Maklumat Presiden Sukarno tanggal 5 Oktober 1945 diubah atau dibentuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pembentukan TKR di Jawa Barat dipelopori oleh Didi Kartasasmita, seorang mantan Opsir KNIL yang pada September 1945 mendatangi Perdana Mentri Republik Indonesia menawarkan diri membantu perjuangan RI. Sebagai seorang perwira lulusan Koninlijke Military Academy (KMA) Breda berpangkat Letnan satu, Didi Kartasasmita disambut baik oleh Amir Syarifudin karena dirasa akan sangat membantu dalam perjuangan kemerdekaan. Berdasarkan persetujuan Presiden, Didi Kartasasmita kemudian membuat maklumat yang berisi pernyataan bagi para mantan opsir KNIL untuk berdiri di belakang RI yang berisi antara lain kurang lebih tentang pembubaran tentara KNIL sejak 9 Maret 1942 oleh Panglima Tertinggi Tentara Hindia-Belanda, Letnan Jendral Ter Poorten, dan dengan pembubaran itu, maka secara otomatis terbebas dari sumpah setia prajurit. Pertimbangan mengenai keamanan Republik yang tengah terancam dengan keberadaan Nedherland Indhisce Civil Administration (NICA) dan kesadaran akan gerakan kemerdekaan Indonesia, maka para mantan opsir KNIL ini menyatakan berdiri di belakang Republik Indonesia dan siap menerima segala perintah untuk menegakkan dan dan menjaga keamaan Republik Indonesia. Maklumat ini kemudian diikuti dengan surat dukungan yang datang dari para opsir junior, mantan taruna KMA Bandung dan bekas opsir cadangan kepada Didi Kartasasmita pada 8 Oktober 1945.

Petikan surat yang intinya menyatakan dukungan dan bersedia bergabung dengan para perwira opsir senior berisi sebagai berikut :

"Kami bekas Cadettan dan bekas Aspirant-Reserve Officieren Tentara Hindia
Belanda menerangkan, bahwa kami menyetujui pendirian para opsir kami
sebagai tertua dari kami dan berdiri sepenuhnya dibelakang mereka"
Bandung, 8 Oktober 1945
-A.H.Nasution -R.A.Badjoeri M.M. -R. Kartakoesoema. -R.S.Sasraprawira.

Nama Siliwangi adalah berasal dari kata "Silih" dan "Wawangi", artinya sebagai pengganti Prabu Wangi. Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):

"Di medan perang Bubat, ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Tatar Sunda. Kemasyurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Tatar Sunda. Oleh karena itu, nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".

Di Tatar Pasundan, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Niskala Wastu Kancana (kakeknya). Menurut tradisi lama, orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun memopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda



Editor : PASUKAN Khsus Siliwangi


Share:

10/06/23

SPARTA | 15RULES OF THE LIFE


Masa Prasejarah Sparta sulit untuk direkonstruksi, karena tidak banyak bukti tulisan dari masa tersebut dan juga distorsi oleh tradisi oral.[1] Namun, bukti paling awal mengenai pemukiman manusia di wilayah Sparta adalah dari tembikar yang berasal dari periode pertengahan Neolitikum, ditemukan di sekitar Kouphovouno, sekitar dua kilometer selatan-barat daya Sparta .[2] Ini adalah jejak awal peradaban Sparta Mikene, seperti yang digambarkan dalam Illiad karya Homer.

Peradaban ini sepertinya jatuh ke dalam kemunduran pada akhir zaman perunggu. Menurut Herodotus, suku-suku Makedonia dari utara bergerak ke Peloponesia, di mana mereka disebut bangsa Doria, mereka menaklukan suku-suku setempat dan menetap di sana.[1] Bangsa Doria tampaknya telah mulai mengembangkan batas wilayah Sparta hampir sebelum mereka mendirikan negara mereka sendiri.[3] Sparta berjuang melawan Doria Argive di timur dan tenggara, dan juga Arkadia Achaea di barat laut. Bukti menunjukkan bahwa daerah Sparta relatif tidak dapat diakses karena topografi dataran Taygete sehingga Sparta memang sudah aman sejak awal.[3]

Menurut Herodotus dan Thucydides, antara abad ke-8 dan ke-7 SM Sparta mengalami periode ketiadaan hukum dan perselisihan sipil.[4] Akibatnya, mereka melakukan serangkaian reformasi politik dan sosial di masyarakat yang kemudian mereka kaitkan dengan pemberi hukum mereka, Lykourgos[5] Perubahan-perubahan ini menandai awal sejarah klasik Sparta.

Spartakus (bahasaYunaniΣπάρτακος, Spártakosbahasa LatinSpartacus[1]) (sekitar tahun 109-71 SM) adalah seorang pemimpin budak terkemuka dalam Perang Budak Ketiga, sebuah pemberontakan budak besar melawan Republik Romawi. Sedikit yang diketahui tentang Spartakus di luar peristiwa perang, dan catatan sejarah hidupnya kadang-kadang kontradiktif dan mungkin tidak selalu dapat dipercaya. Ia adalah seorang pemimpin militer yang terampil.[2]

Perjuangan Spartakus sering dilihat sebagai perjuangan orang-orang tertindas yang berjuang untuk kebebasan mereka terhadap aristokrasi pemilik budak, telah menemukan arti baru bagi para penulis modern sejak abad ke-19. Pemberontakan Spartakus telah terbukti menginspirasi banyak penulis sastra dan politik modern, menjadikannya sebagai pahlawan rakyat, baik di antara budaya kuno maupun modern.


Dalam sumber lain Sparta adalah kota pada zaman Yunani Kuno yang merupakan ibu kota Laconia dengan kota terpenting Peloponesus di tepi Sungai Eurotas. Sparta didirikan oleh orang-orang Doria yang mengalahkan Laconia dan Messenia yang pada perkembangannya menjadi sangat kuat dan berkuasa. Pada abad ke-7 SM, Sparta merupakan pusat kesusastraan namun sesudah tahun 600 SM ilmu kemiliteran yang lebih ditonjolkan.

Anak-anak dari golongan berkuasa (Spartiate) dilatih menjadi militer. Di bawah golongan militer adalah golongan perioeci (tukang dan pedagang) dan helot (budak-budak). Hanya kaum Spartiate yang memiliki hak hukum dan hak sipil.

Sejarawan klasik membagi mengenai apa sebenarnya motif Spartkcus. Sementara Plutarch menulis bahwa Spartakus hanya ingin melarikan diri ke utara menuju Cisalpine Gaul dan membubarkan anak buahnya kembali ke rumah mereka, seperti yang digambarkan pada film tahun 1960, "Spartacus",[40] Appian dan Florus menulis bahwa ia bermaksud untuk masuk dalam barisan Romawi.[41] Appian juga menyatakan bahwa ia kemudian meninggalkan tujuannya, yang tidak lebih dari sebuah refleksi dari ketakutan Romawi. Tidak ada tindakan Spartakus yang menunjukkan bahwa ia bertujuan untuk mereformasi masyarakat Romawi atau menghapuskan perbudakan.

Berdasarkan beberapa peristiwa di akhir 73 SM dan awal 72 SM, menunjukkan kelompok-kelompok memperkerjakan budak secara bebas[42] dan sebuah pernyataan oleh Plutarch bahwa beberapa budak yang melarikan diri lebih mengutamakan untuk menjarah Italia, daripada melarikan diri ke atas Pegunungan Alpen,[40] penulis modern telah menyimpulkan perpecahan faksi antara mereka, yakni yang berada di bawah Spartakus ingin melarikan diri ke atas Pegunungan Alpen untuk kebebasan, dan mereka yang berada di bawah Crixus ingin tinggal di selatan Italia untuk terus merampok dan menjarah.


Catatan kaki
 Herodot, Book I, 56.
 Cartledge 2002, hlm. 28
 Ehrenberg 2004, hlm. 31
 Ehrenberg 2004, hlm. 36
 Ehrenberg 2004, hlm. 33

  1.  M. Tullius Cicero,
  2. ^ http://www.marxist.com/spartacus-representative-of-proletariat.htm
  3. ^ AppianCivil Wars 1.116
  4. ^ FlorusEpitome of Roman History 2.8
  5. ^ The Histories, Sallust, Patrick McGushin, Oxford University Press, 1992, ISBN 0-19-872143-9, p. 112.
  6. ^ Annuaire de l'Université de Sofia, Faculté d'histoire, Volume 77, Issue 2, 1985, p. 122.
  7. ^ The Spartacus war, Barry S. Strauss, Simon and Schuster, 2009, ISBN 1-4165-3205-6, p.31.
  8. ^ The Cambridge Ancient History: part 1. The prehistory of the Balkans; and the Middle East and the Aegean world, tenth to eighth centuries B.C, Cambridge University Press, 1982, hal. 601.
  9. ^ The Assyrian and Babylonian empires and other states of the Near East, from the eighth to the sixth centuries B.C., Volume 3, John Boardman, Cambridge University Press, 1991, ISBN 0-521-22717-8, hal. 601.
  10. ^ AppianCivil Wars1:116PlutarchCrassus8:2. Note: Spartacus's status as an auxilia is taken from the Loeb edition of Appian translated by Horace White, which states “…who had once served as a soldier with the Romans…”. However, the translation by John Carter in the Penguin Classics version reads: “…who had once fought against the Romans and after being taken prisoner and sold…”.
  11. ^ However, according to Cicero (Ad Atticum VI, ii, 8) at the beginning his followers were much less than 50.
  12. ^ PlutarchCrassus8:1–2AppianCivil Wars1:116LivyPeriochae95:2 Diarsipkan 2011-06-29 di Wayback Machine.; FlorusEpitome2.8. Plutarch claims 78 escaped, Livy claims 74, Appian “about seventy”, and Florus says “thirty or rather more men”. “Choppers and spits” is from Life of Crassus.
  13. ^ PlutarchCrassus9:1.
  14. ^ AppianCivil Wars1:116FlorusEpitome2.8.
  15. '^ Plutarchwe46', Crassus9:1–3FrontinusStratagemsBook I, 5:20–22AppianCivil Wars1:116BroughtonMagistrates of the Roman Republic, p. 109.
  16. ^ PlutarchCrassus9:4–5LivyPeriochae 95 Diarsipkan 2011-06-29 di Wayback Machine.; AppianCivil Wars1:116SallustHistories, 3:64–67.
  17. ^ PlutarchCrassus9:3AppianCivil War1:116.
  18. ^ FrontinusStratagemsBook I, 5:20–22 and Book VII:6.
  19. ^ FlorusEpitome2.8.
  20. ^ AppianCivil Wars1:116–117; Plutarch, Crassus 9:6; Sallust, Histories, 3:64–67.
  21. ^ Appian, Civil
  1. Wars1:117PlutarchCrassus 9:7LivyPeriochae 96 Diarsipkan 2017-07-19 di Wayback Machine..
  2. ^ AppianCivil Wars1:117.
  3. ^ PlutarchCrassus9:7.
  4. ^ Spartacus and the Slave Rebellion
  5. ^ Shaw, Brent D. (2001). Spartacus and the slave wars: a brief history with documents. Palgrave Macmillan. ISBN 0312237030.
  6. ^ PlutarchCrassus 10:1.
  7. ^ AppianCivil Wars1:118SmithA Dictionary of Greek and Roman Antiquities"Exercitus", hal. 494 Diarsipkan 2005-12-19 di Wayback Machine..
  8. ^ AppianCivil Wars1:118.
  9. Lompat ke:a b PlutarchCrassus10:1–3.
  10. ^ FlorusEpitome2.8CiceroOrations, "For Quintius, Sextus Roscius...", 5.2
  11. ^ PlutarchCrassus10:4–5.
  12. ^ Contrast PlutarchCrassus11:2 with AppianCivil Wars1:119.
  13. ^ AppianCivil Wars1:120.
  14. ^ AppianCivil Wars1:120PlutarchCrassus10:6.
  15. ^ PlutarchCrassus11:3LivyPeriochae97:1 Diarsipkan 2017-07-19 di Wayback Machine.. BradleySlavery and Rebellion. hal. 97; PlutarchCrassus11:4.
  16. ^ PlutarchCrassus11:5;.
  17. ^ AppianCivil Wars1:120PlutarchCrassus11:6–7LivyPeriochae97.1 Diarsipkan 2017-07-19 di Wayback Machine..
  18. ^ Appian, Civil Wars1:120FlorusEpitome2.8.
  19. ^ AppianCivil Wars1.120.
  20. Lompat ke:a b Plutarch Crassus9:5–6.
  21. ^ AppianCivil Wars1:117FlorusEpitome2.8.
  22. ^ PlutarchCrassus9:7AppianCivil Wars1:117.

 


Share:

09/06/23

BARBAROSA THE SEA HUMAN


Bajak laut Barbaria atau dikenal juga sebagai bajak laut Ottoman, adalah bajak laut dari Afrika Utara yang aktif sampai awal dan pertengahan abad ke-19.

Lanun Barbar menjalankan aktivitas mereka di Afrika Utara, khususnya di Laut Tengah, Tunis, Tripoli, Aljir, Salé, dan pelabuhan-pelabuhan di Maghribi. Afrika Utara yang juga dikenal sebagai Pantai Ottoman. Banyak kapal-kapal dagang dari Eropa yang ingin ke Asia telah dibajak. Kegiatan ini berlangsung sampai abad ke-19 terutama semenjak Perang Salib. Penduduk Afrika Utara secara umum dipanggil Berber.

Para bajak laut ini menangkap budak Kristen dari Eropa dan dijual di pasar-pasar budak seperti di Aljazair dan Maghribi. Menurut Robert Davis, antara 1 juta sampai 1,25 juta orang Eropa telah ditangkap oleh lanun antara abad ke-16 dan ke-17 dan dijual sebagai budak. Mereka ditangkap di sepanjang desa nelayan di Italia, Spanyol dan Portugal, Prancis dan Inggris, dan Belanda dan Irlandia.
Efek kegiatan pembajakan ini, adalah hilangnya ribuan kapal dagang. Fokus para bajak laut ini adalah di pulau-pulau Balearic, mercusuar, dan gereja. Pulau Formentera hampir tidak berpenghuni karena kegiatan bajak laut. Tahun 1551, Turgut Reis telah memperbudak seluruh penduduk Malta Gozo. Antara 5.000 sampai 6.000 penduduknya dibawa ke Libya.

Bajak laut yang terkenal adalah Barbarosa Ottoman bersaudara. Singkatannya Hizir (Hayrreddin) dan kakaknya Oruç. Mereka menguasai daerah Aljir pada abad ke-16 selama tiga abad terutama saat Kekaisaran Ottoman karena semakin banyak kapal dagang berlayar di Laut Tengah.
Bajak laut lain yang terkenal adalah Turgut Reis (Dragut), Kemal Reis, Salih Reis, dan Koca Murat Reis.

Meskipun kegiatan bajak laut telah ada sejak kejatuhan Kekaisaran Romawi, tetapi kegiatan ini semakin terang-terangan dan aktif saat Dinasti Berber. Pusat utama bajak laut adalah di kota Bougie karena paling jahat dan ganas. Kuasa bajak laut ini semakin kuat pada abad ke-16 dan ke-17. Kegiatan ini semakin kurang pada abad ke-18 ketika Prancis menjajah Aljir pada 1830.

Perang Lepanto, 1571.

Penyebab utama kegiatan bajak laut meningkat karena pemerintah Granada ditaklukkan oleh penganut agama Katolik dari Spanyol pada tahun 1492. Banyak orang Islam Moor telah dibunuh dan diusir dari bumi Andalusia / Granada . Orang Islam Moor yang diburu dan dibuang ini kehilangan harta benda, rumah dan rezeki lalu bertindak membalas dendam.



Share:

03/11/22

15 Rules For Life - Viking Code of Conduct


Viking adalah suku bangsa dari Skandinavia yang berprofesi sebagai pedagang, peladang, dan paling terkenal sebagai perompak (sering kali setelah gagal berniaga) yang di antara tahun 800 sampai 1050 menjarah, menduduki dan berdagang sepanjang pesisir, sungai, dan pulau di Eropa[1] dan pesisir timur laut Amerika Utara, bagian timur Eropa sampai ke Rusia, dan Konstantinopel. Mereka memanggil diri mereka sebagai Norsemen (orang utara), sedangkan sumber-sumber utama Russia dan Bizantium menyebut mereka dengan nama Varangian.[2] Sampai sekarang orang Skandinavia modern masih merujuk kepada diri mereka sebagai nordbor (penduduk utara).

Bangsa Viking kerap menjelajah ke berbagai daerah seperti InggrisIrlandiaGreenlandAmerika, dan Perancis memotivasi bangsa Viking membuat perkampungan. Perkampungan atau pemukiman bangsa Viking tersebar diberbagai tempat. Di Inggris terdapat pemukiman viking di YorkLincoln, dan Derby. Di Irlandia terdapat dua pemukiman bangsa Viking, salah satunya Dublin. Di Prancis Utara pun berdiri pemukinan Viking yang di sebut Norman. Bahkan, bangsa Viking di Kiev mendirikan kerajaan bernama Russ atau Rusia. Leif Eriksson, yang dalam saga Islandia dikatakan keturunan para pemimpin Viking Norwegia yang mendirikan perkampungan Eropa pertama di Greenland sekitar tahun 985, kemungkinan besar adalah orang Eropa pertama yang menemukan Amerika sekitar tahun 1000.[3] Perkampungan yang didirikannya kemungkinan besar adalah di L'Anse aux Meadows, yaitu di Newfoundland dan LabradorKanada.

Istilah Abad Viking telah dipakai untuk menyebut periode sejarah Skandinavia dari tahun 800-1066, yaitu sampai pada kematian dari Harald III Sigurdsson.[4][5][6]

Sebutan Viking secara luas dapat pula digunakan untuk menyebut seluruh populasi Skandinavia pada Abad Viking beserta perkampungan-perkampungan sebarannya. Sebagai contoh, para pedagang dan perompak pada masa tersebut yang berasal dari pantai timur Laut Baltik dalam saga Islandia mula-mula disebut sebagai Vikinger fra Estland, atau dalam bahasa Norwegia ialah Viking Estonia.[7][8][9][10]

Penjelajahan Viking semakin berkurang dan akhirnya berhenti selama proses Kristenisasi Skandinavia yang berlangsung secara bertahap.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Share: