Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan nama panggilan "Gus Dur," adalah seorang ulama, intelektual, dan politikus Indonesia yang menjadi tokoh penting dalam sejarah politik dan agama Indonesia. Berikut adalah biografi singkat tentang Gus Dur:
**Nama Lengkap:** Abdurrahman Wahid
**Tanggal Lahir:** 7 September 1940
**Tempat Lahir:** Jombang, Jawa Timur, Indonesia
**Tanggal Wafat:** 30 Desember 2009
**Latar Belakang Keluarga:**
- Abdurrahman Wahid lahir dalam keluarga bangsawan Jawa yang memiliki keturunan dari banyak tokoh agama, termasuk pendiri pesantren (sekolah agama Islam tradisional) besar di Jawa Timur.
**Pendidikan dan Karier Awal:**
- Gus Dur menerima pendidikan awal di rumah dari ayahnya yang merupakan seorang ulama.
- Ia melanjutkan pendidikannya di pesantren dan kemudian di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, di mana ia belajar tentang Islam.
- Ia juga belajar di Universitas Baghdad di Irak.
**Kontribusi dalam Bidang Agama:**
- Gus Dur adalah seorang ulama dan pemikir Islam yang memiliki pandangan moderat dan inklusif.
- Ia memimpin Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, sebagai ketua dari tahun 1984 hingga 1999.
- Gus Dur mempromosikan dialog antaragama dan toleransi agama, serta menekankan pentingnya Islam yang moderat dan inklusif.
**Karier Politik:**
- Gus Dur terlibat dalam politik Indonesia dan menjadi presiden Indonesia keempat pada tahun 1999 setelah masa kekuasaan Soeharto berakhir.
- Ia adalah presiden pertama Indonesia yang dipilih secara demokratis oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
- Selama masa jabatannya sebagai presiden, Gus Dur menghadapi tantangan besar, termasuk krisis ekonomi dan konflik etnis dan agama. Meskipun kontroversial, ia terus mempromosikan demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian.
**Pengasingan dan Kehidupan Setelah Pemerintahan:**
- Gus Dur dijatuhkan dari jabatannya sebagai presiden pada tahun 2001 oleh MPR karena tekanan politik.
- Setelah itu, ia menjalani masa pengasingan politik dan hidup dengan relatif tenang di Yogyakarta.
- Ia terus berbicara tentang isu-isu politik, sosial, dan agama di Indonesia hingga wafatnya pada tahun 2009.
**Pengakuan dan Penghargaan:**
- Gus Dur dihormati sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia, terutama dalam konteks perdamaian, pluralisme, dan demokrasi.
- Ia dianugerahi berbagai penghargaan dan gelar kehormatan, termasuk penghargaan PBB "Ketua Kelas Dunia untuk Keselamatan Kemanusiaan."
Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, adalah sosok yang sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu pemimpin spiritual dan politik terpenting di Indonesia. Pemikirannya tentang pluralisme, toleransi agama, dan demokrasi terus memengaruhi perkembangan Indonesia hingga saat ini.
Aktivitas setelah kepresidenan
Perpecahan pada tubuh PKB
Sebelum Sidang Khusus MPR, anggota PKB setuju untuk tidak hadir sebagai lambang solidaritas. Namun, Matori Abdul Djalil, ketua PKB, bersikeras hadir karena ia adalah Wakil Ketua MPR. Dengan posisinya sebagai Ketua Dewan Syuro, Gus Dur menjatuhkan posisi Matori sebagai Ketua PKB pada tanggal 15 Agustus 2001 dan melarangnya ikut serta dalam aktivitas partai sebelum akhirnya mencabut keanggotaan Matori pada bulan November.[65] Pada tanggal 14 Januari 2002, Matori mengadakan Munas Khusus yang dihadiri oleh pendukungnya di PKB. Munas tersebut memilihnya kembali sebagai ketua PKB. Gus Dur membalasnya dengan mengadakan Munasnya sendiri pada tanggal 17 Januari, sehari setelah Munas Matori selesai[66] Musyawarah Nasional memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. PKB Gus Dur lebih dikenal sebagai PKB Kuningan sementara PKB Matori dikenal sebagai PKB Batutulis.
Pemilihan umum 2004
Pada April 2004, PKB berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004, memperoleh 10.6% suara. Untuk Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004, di mana rakyat akan memilih secara langsung, PKB memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis sehingga Komisi Pemilihan Umum menolak memasukkannya sebagai calon. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan dari Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Untuk pemilihan kedua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur menyatakan golput.
Oposisi terhadap pemerintahan SBY
Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu pemimpin koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan menyebabkan naiknya harga BBM.
0 komentar:
Posting Komentar