Abdul Rachman Saleh adalah seorang filsuf, pemikir, dan ulama Indonesia yang berperan penting dalam pengembangan pemikiran Islam moderat dan pendidikan di Indonesia pada abad ke-19. Berikut adalah biografi singkat tentang Abdul Rachman Saleh:
**Nama Lengkap:** Abdul Rachman Saleh
**Tanggal Lahir:** 8 Maret 1888
**Tempat Lahir:** Serang, Banten, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
**Tanggal Wafat:** 9 Juli 1962
**Pendidikan:**
- Abdul Rachman Saleh memulai pendidikannya di sekolah rakyat setempat dan kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah Belanda.
- Dia menerima pendidikan Islam tradisional di bawah bimbingan ulama terkemuka pada masa itu.
**Kontribusi dan Pemikiran:**
- Abdul Rachman Saleh dikenal sebagai salah satu pemikir terkemuka dalam perkembangan Islam moderat di Indonesia.
- Ia mempromosikan konsep Islam yang toleran, inklusif, dan membuka dialog dengan budaya-budaya non-Islam, terutama dalam konteks pluralisme Indonesia.
- Salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah buku berjudul "Islam dan Budaya," di mana ia membahas pentingnya integrasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.
- Ia juga aktif dalam mengkampanyekan pendidikan modern dan Islam yang seimbang. Dia mendirikan sekolah modern dan menggabungkan pendidikan agama dengan pendidikan umum.
- Selama hidupnya, Abdul Rachman Saleh banyak memberikan ceramah dan kuliah tentang Islam dan pendidikan di berbagai tempat di Indonesia.
**Pengabdian Sosial:**
- Abdul Rachman Saleh juga dikenal sebagai seorang pemimpin sosial yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia terlibat dalam kegiatan sosial dan amal.
- Ia mendirikan berbagai organisasi sosial dan pendidikan yang mendukung anak-anak miskin dan kurang beruntung.
**Pengakuan dan Penghargaan:**
- Meskipun bukan seorang politikus aktif, Abdul Rachman Saleh dihormati dan diakui oleh banyak kalangan sebagai pemikir dan ulama yang berpengaruh.
- Dia dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dalam mengembangkan pemikiran Islam moderat di Indonesia.
Abdul Rachman Saleh adalah sosok yang berperan penting dalam mengembangkan pemikiran Islam moderat dan pendidikan di Indonesia. Ia mendorong dialog antaragama, toleransi, dan pendidikan yang seimbang sebagai cara untuk memajukan masyarakat Indonesia dan mempromosikan nilai-nilai keadilan sosial. Pemikirannya terus memberi inspirasi dalam konteks Indonesia yang beragam dan multikultural saat ini.
Akhir hidup
Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan pesawat Dakota ini mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.
Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Times memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi izin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jip-nya di Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.
Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.
Abdulrachman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 November 1974.
Pada tanggal 14 Juli 2000,[1] atas prakarsa TNI-AU, makam Abdulrachman Saleh, Adisucipto, dan para istri mereka dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.
Namanya diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia(FKUI) yaitu (National Medical and General Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrachman Saleh.
0 komentar:
Posting Komentar