08/07/22

περιστρωσοφια |. Hevenes To Idea , Moccsha from Buddha Culture








Periscope academica, ruang pikir sejatinya selalu menyimpan hal yang begitu luas untuk selalu ditarik kebijaksanaannya yang menghasilkan kebahagian. Sedikit cuplikan seseorang yang berhasil dalam Moccsha.

Moccsha

Budha adalah seorang yang menjalani kehidupan dengan baik bersama alam sekitar. Dalam salah satu ritusnya ada hal yang menarik untuk diketahui. Mocsha, merupakan proses melepaskan diri dari wujud,jasad, dan raga. Hal ini seringkali dipakai ketika seseorang pejalankaki telah merasakan sebuah kenikmatan yang sangat  luarbiasa. Dalam kondisi yang sangat lelah, dimana dia dituntut untuk menenangkan diri dengan wujud alam yang dia lalui.

Terkadang mocsha selalu dilakukan dengan proses pertava, dengan tidak makan dan minum. Ini menjadi stimulus dalam meluaskan ruang berfikir. Upawasa dalam Hindu pun sama dimana seseorang swuadra atau orang ahli dalam pertava dia sering kali beribadah dengan tidak memakan dan meminum hal apapun yang ia dirasa inginkan .

Kebebasan dalam ruang fikir, serta kebebasan dalam berfikir merupakan hal yang sangat melibatkan anggota badan bagian atas, atau kepala. Sedangkan orayan otak bagian intim yang bekerja. 

Artikel ini bukan tentang membicarakan apakah orang yang pintar selalu besar kepala, atau orang yang cerdas identik dengan kepala yang luas. Tetapi, Surga seseorang ilmuan, filsuf atau cendikiawan adalah mereka yang senantiasa tenang dalam segala perjanan hidup, dan proses kehidupan yang dilalui. 

Adalah Surga ketika hasil dalam pemikiran, manfaat dari berfikir. Dapat dirasakan banyak oleh orang-orang. Dimana seorang pemikir dapat terlepas dari sebuah cengkraman lautan fikir manusia. Seperti dia yang menjadi alam sekirar, dan apa yang orang lain pelajari darinya hadir menjadi sosok manusia.

Ibnu Sirin, "seseorang akan berubah sesuai dengan apa yang ia baca, sementara mantra dalam dirinya menjadikan sosok dan nyata."

Semakin sempit seseorang dalam menilai kebahagiaan, maka semakin jelas dia menjadi seorang manusia. Dan semakin sempit seseorang menilai alamnya, maka akan semakin luas dia menilai sisi kemanusiaan. 

Kebebasan dalam berfikir, menitikberatkan apakah pemikiran yang ia lepaskan berdampak atau tidak sama sekali. Fikiran yang bebas merupakan adilnya proses prosés otak dalam menilai , dimana sisi positif berada, dan dimana  sisi négatif hadir. 

Sebuah persaksian, bahwa surga seseorang yang berfikir merupakan, kebahagiaan seluruh tubuh dalam merangsang semua bagiannya sehingga ia dapat bebas dalam berfikir dan menghasilkan sebuah karya yang tidak pernah ia nilai, dan karya itu menilainya.





Share:

0 komentar: