Bacharuddin Jusuf Habibie, commonly known as B.J. Habibie, was an Indonesian engineer, politician, and the third President of Indonesia. Here is a brief biography of B.J. Habibie:
**Early Life:**
1. **Birth:** Habibie was born on June 25, 1936, in Parepare, South Sulawesi, Dutch East Indies (now Indonesia).
2. **Education:** He studied aviation and aerospace engineering in Germany, earning a Diplom-Ingenieur degree from the Technische Hochschule Aachen (now RWTH Aachen University). He later obtained a Ph.D. in engineering from the Technische Universität München (Technical University of Munich).
**Career:**
1. **Return to Indonesia:** After completing his education in Germany, Habibie returned to Indonesia in 1974. He began working for the state-owned aviation company Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).
2. **Aerospace Industry:** Habibie played a key role in the development of Indonesia's aerospace industry. He promoted the idea of making Indonesia self-sufficient in the production of airplanes and played a role in the establishment of the Indonesian Aerospace (IPTN).
**Political Career:**
1. **Minister of Research and Technology:** Habibie served as Minister of Research and Technology under President Suharto from 1978 to 1998. During this time, he focused on advancing Indonesia's technological capabilities.
2. **Vice Presidency:** In 1998, amid political and economic crises, President Suharto appointed Habibie as Vice President. Suharto resigned later that year, and Habibie succeeded him as the President of Indonesia.
**Presidency:**
1. **Reforms:** Habibie initiated a series of political and economic reforms during his presidency, including the lifting of restrictions on the press, the release of political prisoners, and the organization of democratic elections.
2. **East Timor:** Habibie allowed a referendum on independence for East Timor in 1999, leading to its separation from Indonesia.
3. **1999 General Election:** In the 1999 general election, Habibie did not seek re-election, and Abdurrahman Wahid was elected as the fourth President of Indonesia.
**Later Years:**
1. **Post-Presidential Activities:** After leaving office, Habibie continued to be involved in various activities, including writing books and participating in global forums on science and technology.
2. **Death:** B.J. Habibie passed away on September 11, 2019, in Jakarta, Indonesia, at the age of 83.
B.J. Habibie is remembered for his contributions to Indonesia's aerospace industry, his role in the political transition during a critical period, and his efforts towards political and economic reforms.
Referensi
Hendri F. Isnaeni, “Menelusuri Leluhur BJ Habibie”, Historia , diakses 25 Oktober 2019, https://historia.id/politik/articles/menelusuri-leluhur-bj-habibie-vx2Mo.
Christine Manby, “BJ Habibie: Pemimpin Indonesia yang masa jabatan singkatnya ditandai dengan pergeseran menuju demokrasi yang lebih besar”, Independen , 10 Oktober 2019, https://www.independent.co.uk/news/obituaries/bj-habibie-death -indonesia-presiden-kediktatoran-demokrasi-a9118166.html.
Petir Garda Bhwana, “BJ Habibie: Sang Jenius Pencipta Pesawat Terbang Pertama Indonesia”, Tempo.co , 12 September 2019, https://en.tempo.co/read/1246812/bj-habibie-the-genius-of- pencipta pesawat pertama di indonesia.
Hidayat Gunadi dan Hatim Ilwan, “Faktor Habibie: Lebih Aman dan Ringan”, Majalah Gatra , Agustus 2004, diakses melalui web pada 25 Oktober 2019, http://arsip.gatra.com/2004-08-13/majalah/artikel .php?pil=23&id=43663.
Rizky Anggara, “BJ. Habibie: Kehidupan dan Karyanya”, Elabram , 13 September 2019, https://elabram.com/index.php/2019/09/13/obituary-habibie/.
Petir Garda Bhwana, “Warisan Sang Jenius BJ Habibie”, Tempo.co , 12 September 2019, https://en.tempo.co/read/1246967/the-legacy-of-the-genius-bj-habibie .
Arya Dipa, “Bangsa ini mengucapkan selamat tinggal pada 'Pak. Crack'”, The Jakarta Post , 13 September 2019, https://www.thejakartapost.com/news/2019/09/13/nation-bids-farewell-its-dear-mr-crack.html.
Dinar Surya Oktarini, “Kisah BJ Habibie dan Pesawat Pertama Indonesia N250 Gatotkaca”, Suara.com , 12 September 2019, https://www.suara.com/tekno/2019/09/12/153151/kisah-bj-habibie -dan-pesawat-pertama-indonesia-n250-gatot-kaca.
Referensi Gambar
“Presiden Republik Indonesia Ke-3 BJ Habibie”, National Geographic Indonesia, diakses 25 Oktober 2019, https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×0/photo/nationalgeographic/201309270831020_b.jpg .
Mantan Presiden BJ Habibie menunjukkan foto dirinya bersama pesawat hasil karya N-250 Gatotkaca usai membuka pameran foto Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Minggu (24/7/2016)”, Suara.com , diakses 26 Oktober 2019, https://media.suara.com/pictures/653×366/2019/09/11/36974-bj-habibie-n250.jpg.
tentang Penulis Nayyara, 15, Indonesia
Pada tahun 1954, Habibie melanjutkan pendidikan tingginya di Institut Teknologi Bandung (ITB, Jawa Barat) [3] sebelum melanjutkan studi teknologi penerbangan di Universitas Teknologi Delft, Belanda. Namun karena perselisihan West New Guinea antara Indonesia dan Belanda, Habibie dipindahkan ke RWTH Aachen University di Jerman Barat [2] , jurusan konstruksi pesawat terbang. [3] Ia menyelesaikan gelar teknik (Diplom-Ingenieur) pada tahun 1960 dan tinggal di Aachen sebagai asisten peneliti sambil menyelesaikan gelar doktornya.
Selama ini, Habibie bekerja di Waggenfabrik Talbot, sebuah perusahaan kereta api, di mana ia membantu merancang gerbong kereta api. [2] Habibie menolak kemajuan di industri perkeretaapian untuk menyelesaikan disertasinya. Pada tahun 1965, ia menerima gelar Doktor Ingenieur (Dr.-Ing.) di bidang teknik dirgantara.
Habibie kemudian bergabung dengan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), sebuah perusahaan penerbangan Jerman, di mana ia mengembangkan The Habibie Method (aerodinamika), The Habibie Theorem (konstruksi), dan The Habibie Factor (termodinamika). [2] [5]
Pada awal tahun 1960-an, kecelakaan pesawat sering terjadi karena kegagalan konstruksi, banyak pula yang disebabkan oleh kelelahan pada badan pesawat. [4] Ketika kelelahan logam terjadi, itu adalah awal dari keretakan. Titik kritis kelelahan biasanya terletak pada sambungan antara sayap dengan dudukan mesin atau antara sayap dan badan pesawat. Titik-titik ini mengalami turbulensi yang konstan, terutama saat lepas landas dan mendarat.
Titik retakan akan terus bercabang dan merambat dari hari ke hari di dalam struktur. [4] Jika tidak terdeteksi, sayap bisa patah dan patah saat lepas landas. Saat itu masih sulit untuk mendeteksi kelelahan ini sejak dini karena belum ada pemindai laser atau sensor untuk mengatasi masalah krusial ini. Risiko kelelahan semakin besar seiring dengan beralihnya industri penerbangan dari penggunaan baling-baling ke jet.
Habibie kemudian mengembangkan teori perambatan crack , yang memberinya nama 'Mr. Crack' dari rekan-rekan internasionalnya. [7] Melalui teorinya, titik retakan dapat diprediksi sejak dini, sehingga pesawat menjadi lebih aman, mengurangi risiko kegagalan mendadak, dan membuat perawatannya lebih murah dan mudah. Dengan adanya titik retak tertentu, pembangunan pesawat juga menjadi lebih cepat karena pengujian kelelahan dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat. [4]
Para insinyur biasa mengatasi kemungkinan retak dengan menaikkan faktor keamanan (SF). Artinya menggunakan material yang lebih berat untuk bodi pesawat, yaitu menggunakan paduan aluminium dan baja. Setelah titik retak dapat ditentukan, SF dapat diturunkan dan pesawat dapat menggunakan material yang lebih ringan. Inilah yang disebut dengan Faktor Habibie yang mampu menurunkan bobot kosong operasi pesawat sebesar 10%. [4] Namun, hal ini tidak mengurangi berat lepas landas maksimum. Oleh karena itu, Faktor Habibie membantu pesawat mengangkat beban lebih banyak dan terbang lebih jauh. [4]
BJ Habibie dipanggil pulang oleh mantan Presiden Indonesia, Soeharto pada tahun 1974 untuk membantu membangun industrialisasi negara. Selama dua puluh tahun, Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi Indonesia. [2] [3] [7] Semasa menjabat menteri, ia mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Sekarang PT. Dirgantara Indonesia) pada bulan April 1976. [7] Nurtanio adalah perusahaan yang memelopori industri penerbangan Indonesia.
Habibie juga memimpin proyek N-250 Gatotkaca yang merupakan pesawat pertama di Indonesia yang diproduksi oleh PT. Dirgantara Indonesia dan dirancang oleh BJ Habibie sendiri. [6] Sebuah N-250 memiliki 6 baling-baling, kecepatan jelajah maksimum 610 km/jam, dan kecepatan jelajah ekonomis 555 km/jam, menjadikan N-250 Gatotkaca menjadi yang tercepat di kelasnya sebagai pesawat turboprop 50 kursi pada saat itu. . [8]
Secara keseluruhan, Habibie telah mengajukan 46 paten global dan pada tahun 1992, Habibie menerima penghargaan von Karman Award dari International Council Aeronautical Science (ICAS). [5] Sayangnya, awal tahun ini, tepatnya pada 11 September 2019 , BJ Habibie meninggal dunia pada usia 83 tahun, meninggalkan warisan penting di bidang sains, teknologi, dan teknik.

0 komentar:
Posting Komentar